— Kartunis Yoon Seo-in menjadi sorotan setelah membela aktris Ha-young yang terseret isu tudingan kolaborasi dengan otoritas kolonial Jepang. Pembelaan Yoon justru menuai komentar sinis dari warganet, bahkan ada yang menyebutnya “mendapat stempel sertifikasi pro-Jepang sendiri”.

Pada Senin, Yoon membagikan tangkapan layar pernyataan dari agensi Ha-young di akun Facebook-nya. Ia menuliskan, “Saya merasa kasihan pada Ha-young.” Pernyataan dari agensi Ha-young, Bisters Entertainment, mengonfirmasi bahwa kakek buyut sang aktris adalah Ahn Sang-ho. Namun, mereka membantah tudingan kolaborasi sebagai hal yang “tidak berdasar”.

Kontroversi ini bermula ketika Ha-young menceritakan latar belakang keluarganya di berbagai siaran dan wawancara. Dikenal dengan nama lahir Ahn Ha-young, ia pernah menyebutkan dalam beberapa program hiburan, termasuk “Okdapbang-ui Munje-adul (Rooftop Troublemakers)” di KBS 2TV, bahwa keluarganya telah menghasilkan dokter selama empat generasi.

“Sepengetahuan saya, kakek buyut saya adalah salah satu orang pertama yang membuka klinik pengobatan Barat di Hanyang pada masa itu,” ujarnya dalam salah satu program. “Setelah belajar kedokteran di Jepang, ia membuka klinik bergaya Barat pertama di Hanyang dan merawat Kaisar Gojong.”

Setelah siaran tersebut, spekulasi menyebar di komunitas daring bahwa kakek buyutnya adalah Ahn Sang-ho. Seiring ditelitinya kembali aktivitas masa lalu Ahn Sang-ho, kontroversi tersebut meningkat menjadi tudingan kolaborasi dengan Jepang.

Pembelaan publik Yoon Seo-in memicu berbagai reaksi di media sosial dan komunitas daring. Warganet menuliskan komentar seperti “dia jadi ikut terseret”, “dia mendapat stempel sertifikasi pro-Jepang sendiri”, dan “dia dicap dengan segel itu”.

Sebelumnya, Yoon Seo-in juga pernah memicu kontroversi pada tahun 2021. Ia mengunggah gambar yang membandingkan rumah rapi keturunan kolaborator pro-Jepang dengan rumah kumuh keturunan aktivis kemerdekaan. Saat itu, ia menuai kritik karena menulis: “Kalau dipikir-pikir, mungkin bahkan 100 tahun yang lalu, yang disebut kolaborator pro-Jepang adalah orang-orang yang bekerja keras, sementara para aktivis kemerdekaan adalah orang-orang yang hidup sembarangan.”